Mensesneg Sampaikan Presiden Ingin Persoalan Sampah Ditangani Cepat dan Profesional

Kamis, 05 Februari 2026 | 14:07:47 WIB
Mensesneg Sampaikan Presiden Ingin Persoalan Sampah Ditangani Cepat dan Profesional

JAKARTA - Isu sampah kembali menjadi perhatian serius pemerintah dalam upaya menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan. 

Arahan Presiden menekankan pentingnya penelitian yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Fokus tersebut diarahkan agar solusi yang dihasilkan benar-benar dapat diterapkan di lapangan.

Mensesneg: Presiden minta persoalan sampah dibereskan sebagai bagian dari agenda prioritas nasional. Pemerintah memandang bahwa persoalan sampah tidak bisa lagi ditunda penanganannya. Pendekatan ilmiah dan kebijakan strategis dinilai menjadi kunci utama.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden RI Prabowo Subianto meminta penelitian diarahkan untuk menjawab problem nyata. Penelitian tidak hanya berhenti pada konsep, tetapi harus berujung pada solusi konkret. Sampah menjadi salah satu contoh persoalan yang membutuhkan penanganan cepat.

Arahan Presiden pada Fokus Penelitian Terapan

Presiden memberikan arahan agar penelitian difokuskan pada kebutuhan mendesak masyarakat. Penelitian diharapkan mampu membantu penyelesaian persoalan lingkungan. Sampah rumah tangga dan lingkungan menjadi sorotan utama.

“Keputusan Bapak Presiden untuk kita menajamkan penelitian-penelitian yang bisa secepatnya membantu problem-problem yang dihadapi oleh masyarakat, salah satunya misalnya mengenai penanganan sampah rumah tangga, sampah lingkungan,” kata dia. Pernyataan tersebut menegaskan arah kebijakan penelitian nasional. Pemerintah ingin hasil riset segera dirasakan manfaatnya.

Penajaman riset ini dinilai penting untuk mempercepat penyelesaian persoalan sampah. Inovasi yang sudah ada diminta untuk segera diimplementasikan. Kolaborasi lintas sektor juga menjadi bagian dari strategi tersebut.

Inovasi Pengelolaan Sampah dari Mikro hingga Makro

Berbagai produk penelitian sebenarnya telah tersedia untuk mengatasi masalah sampah. Inovasi tersebut mencakup pengelolaan dari skala rumah tangga hingga desa. Pemerintah melihat potensi besar dari penerapan riset yang sudah ada.

Prasetyo menyampaikan bahwa inovasi tersebut diharapkan menjadi solusi nyata. Penerapan teknologi harus disesuaikan dengan kebutuhan wilayah. Dengan demikian, dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat.

Dalam melihat persoalan sampah, terdapat tingkatan yang harus diperhatikan secara menyeluruh. Skala mikro meliputi rumah tangga, RT, dan RW. Sementara skala makro mencakup persoalan sampah di tingkat kota.

Tantangan Sampah Perkotaan dan Ancaman Lingkungan

Sampah di kawasan perkotaan memiliki volume yang jauh lebih besar. Penanganannya membutuhkan pendekatan berbeda dibandingkan skala kecil. Jika tidak dikelola dengan baik, dampaknya dapat meluas.

Presiden RI Prabowo Subianto menyoroti penumpukan sampah di kota-kota besar. Menurut Presiden, kondisi tersebut sudah mengkhawatirkan. Penanganan segera menjadi keharusan untuk mencegah krisis lingkungan.

Penumpukan sampah disebut berpotensi menimbulkan bencana lingkungan. Dampak tersebut bisa berupa pencemaran hingga gangguan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, langkah strategis harus segera dilakukan.

Proyek Waste to Energy sebagai Solusi Terpadu

Salah satu langkah strategis yang disiapkan pemerintah adalah proyek waste to energy. Program ini mengubah sampah menjadi energi listrik. Pendekatan ini dinilai mampu menyelesaikan dua persoalan sekaligus.

Presiden menyampaikan bahwa proyek tersebut akan memasuki tahap awal pelaksanaan. Sebanyak 34 proyek direncanakan untuk direalisasikan. Lokasi dipilih berdasarkan tingkat produksi sampah yang tinggi.

“Program waste to energy yang rencana yang mau segera dilaksanakan di 34 kabupaten itu adalah lokasi dimana jumlah produksi sampahnya sudah melebihi seribu ton satu hari. Manakala skalanya sudah sebesar itu, maka jenis peralatan yang harus dibangun tentu berbeda (dengan yang mikro),” ungkap Mensesneg.

Teknologi yang digunakan harus disesuaikan dengan kapasitas sampah. Pemerintah menilai pendekatan teknologi adaptif sangat dibutuhkan. Kecepatan implementasi juga menjadi faktor penting.

Prasetyo menekankan bahwa penyelesaian sampah harus dilakukan terintegrasi. Fokus diarahkan pada teknologi dan edukasi masyarakat. Kedua aspek tersebut harus berjalan beriringan.

“Jadi penyelesaian sampah tidak sekedar bentuk kita membangun insineratornya, tapi edukasinya juga menjadi salah satu kunci,” ujarnya. Edukasi pemilahan sampah dinilai krusial. Dengan begitu, program waste to energy dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.

Terkini