Kemendikdasmen Siapkan Aturan SPMB Khusus untuk Siswa di Wilayah Bencana

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:50:49 WIB
Kemendikdasmen Siapkan Aturan SPMB Khusus untuk Siswa di Wilayah Bencana

JAKARTA - Kemendikdasmen bergerak cepat untuk memastikan murid terdampak bencana tetap dapat melanjutkan pendidikan. 

Surat Edaran (SE) Menteri akan segera diterbitkan sebagai pedoman pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di daerah terdampak. Kebijakan ini menekankan kemudahan mutasi dan kepindahan sekolah agar anak-anak tidak putus sekolah.

Langkah ini diambil untuk wilayah Aceh, Sumut, dan Sumbar yang baru mengalami bencana. Tujuannya meminimalisasi potensi drop out akibat kerusakan sekolah atau relokasi keluarga. Dengan adanya aturan ini, anak-anak dapat tetap mengikuti jenjang pendidikan sesuai kebutuhan.

Jamjam Muzaki, perwakilan Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana, menegaskan pentingnya penyesuaian kebijakan. "Mungkin nanti akan ada beberapa penyesuaian kebijakan. 

Kami sedang menggodok Surat Edaran Menteri juga terkait penerimaan peserta didik terdampak bencana," ujarnya. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini memberikan fleksibilitas bagi orang tua dan sekolah.

Fleksibilitas Mutasi dan Kepindahan Sekolah

Kebijakan SE Menteri akan mempermudah perpindahan siswa akibat bencana. Murid bisa berpindah kelas atau jenjang sesuai kondisi keluarga. Hal ini bertujuan agar proses pendidikan tetap lancar tanpa hambatan administratif.

Jamjam menjelaskan bahwa perpindahan ini juga mencakup mekanisme SPMB di sekolah terdampak bencana. "Nah itu juga kita atur jadi diberikan kemudahan untuk melakukan mutasi, untuk melakukan kepindahan termasuk bagaimana mekanisme penerimaan sekolah terdampak bencana, termasuk nanti SPMB-nya," katanya. Kebijakan ini diharapkan dapat menjaga kontinuitas pendidikan di daerah rawan bencana.

Sekolah yang bangunannya masih layak pakai dapat menampung siswa baru sesuai daya tampung tahun sebelumnya. Hal ini penting karena jumlah rombongan belajar (rombel) bisa lebih sedikit setelah bencana. Dengan demikian, kapasitas sekolah tetap optimal meski kondisi pascabencana berbeda.

Proses Pembelajaran Pascabencana Berbeda

Jamjam menegaskan pengalaman belajar anak-anak pascabencana akan bervariasi. Sebagian murid akan belajar di bangunan baru yang sudah diperbaiki. Sementara lainnya akan tetap belajar di sekolah darurat yang disiapkan sementara.

Proses ini termasuk penataan ruang kelas darurat dan pembelajaran di tenda. Pemerintah memastikan model pembelajaran tetap berkualitas meski fasilitas terbatas. Anak-anak juga akan mendapatkan dukungan psikososial agar adaptasi terhadap situasi baru lebih mudah.

Dengan metode ini, semua siswa tetap memiliki kesempatan untuk berkembang. Guru-guru pun dibekali pelatihan agar mengajar secara efektif di sekolah darurat. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemulihan pendidikan pascabencana.

Monitoring Kehadiran Siswa dan Guru

Surat Edaran juga bertujuan memantau kehadiran murid dan guru. Monitoring dilakukan agar tidak ada yang putus sekolah karena harus relokasi. Jamjam mengatakan kegiatan ini melibatkan koordinasi dengan pemerintah daerah.

"Kami juga sedang melakukan monitoring terkait dengan kehadiran siswa dan guru di sekolah, terutama mungkin yang saat ini mereka harus relokasi atau pindah," ujar Jamjam. Data kehadiran membantu menentukan kebutuhan tambahan tenaga pendidik atau fasilitas. Dengan pemantauan ini, pemerintah dapat cepat menyesuaikan kebijakan pendidikan.

Monitoring juga mempermudah evaluasi program pembelajaran darurat. Informasi yang terkumpul digunakan untuk merancang strategi pendidikan jangka panjang di daerah terdampak. Dengan cara ini, kualitas pendidikan tetap terjaga meskipun terjadi bencana.

Pendampingan Model Pembelajaran di Sekolah Darurat

Tim Pusat Kurikulum Pembelajaran Kemendikdasmen aktif mendampingi pemerintah daerah. Fokus pendampingan meliputi metode pembelajaran di tenda atau ruang pinjaman. Hal ini termasuk perbaikan kondisi psikososial murid dan peningkatan kapasitas guru.

"Kalau yang pembelajarannya kan secara umum bagaimana proses pembelajaran di tenda, kemudian kalau menumpang juga sedang disusun untuk pemulihan kondisi psikososial dan juga peningkatan kapasitas guru di daerah terdampak bencana," jelas Jamjam. 

Model pembelajaran ini dirancang agar siswa tetap bisa mengikuti kurikulum dengan efektif. Pendampingan juga memastikan guru mampu mengelola kelas darurat dengan baik.

Program ini menjadi bagian strategi nasional untuk menekan angka putus sekolah. Anak-anak tetap mendapatkan pendidikan layak meski lokasi sekolah terbatas. Semua pihak terlibat bekerja sama untuk keberlanjutan pendidikan di wilayah rawan bencana.

Upaya Meminimalisasi Drop Out dan Dampak Bencana

SE Menteri diharapkan menekan potensi drop out akibat bencana. Kebijakan ini memastikan setiap anak memiliki akses pendidikan. Penerapan aturan SPMB yang fleksibel memberi rasa aman bagi keluarga dan siswa.

Kemendikdasmen juga menyiapkan program pemulihan psikososial. Hal ini penting agar anak-anak tetap semangat belajar. Dukungan bagi guru memastikan metode pengajaran tetap efektif meski fasilitas terbatas.

Dengan langkah-langkah ini, pemerintah menunjukkan komitmen menjaga hak anak untuk belajar. Kebijakan ini sekaligus menjadi strategi meminimalisasi dampak bencana terhadap pendidikan. Langkah kolaboratif antara pusat dan daerah diharapkan membawa hasil positif bagi semua pihak.

Terkini