JAKARTA - Kebiasaan anak yang terlalu pemilih makanan sering menjadi tantangan bagi orang tua.
Anak picky eater biasanya menolak beberapa jenis makanan, terutama yang baru dikenalkan. Dokter spesialis anak, dr. Ian Suryadi Suteja, menjelaskan pentingnya mengenali pola ini sejak dini.
Menurut dokter Ian, pemahaman orang tua terhadap perilaku anak sangat penting untuk membentuk pola makan sehat. Anak yang picky eater tidak berarti anak kurang sehat, namun dapat memengaruhi asupan gizi. Dengan strategi tepat, kebiasaan ini dapat diubah secara perlahan.
“Anak picky eater bisa diatasi dengan pendekatan yang menyenangkan, bukan paksaan,” ujar dokter Ian. Anak-anak merespons lebih baik terhadap metode bermain sambil belajar daripada tekanan untuk makan. Pendekatan ini memungkinkan mereka mengenal makanan baru dengan rasa penasaran alami.
Sensory Play sebagai Awal Pengalaman Makanan
Salah satu strategi utama adalah menggunakan sensory play, yaitu permainan melatih sensorik anak dengan berbagai tekstur makanan. Dengan sensory play, anak dapat menyentuh, mencium, dan melihat makanan tanpa harus langsung memakannya. Hal ini membantu membangun rasa nyaman terhadap makanan baru.
Dokter Ian menekankan, “Kita atasi dulu picky eaternya, boleh lakukan misalnya sensory play dengan berbagai macam tekstur, cari segala macam ide-ide sensory play setiap harinya ada.” Aktivitas ini tidak hanya membuat anak lebih akrab dengan makanan, tetapi juga merangsang perkembangan sensorik mereka. Sensory play menjadi langkah pertama sebelum anak benar-benar mencoba makanannya.
Metode ini bisa dilakukan di rumah dengan berbagai bahan sederhana. Misalnya, memanfaatkan sayuran, buah, atau bahan makanan yang berbeda teksturnya. Aktivitas ini mendorong anak untuk mengeksplorasi makanan tanpa rasa takut atau terpaksa.
Metode Sensory Food Hierarchy Bertahap
Setelah sensory play, langkah berikutnya adalah menerapkan sensory food hierarchy secara bertahap. Dokter Ian menjelaskan, metode ini membantu anak mengenal makanan melalui tahapan interaksi bertahap. Mulai dari melihat makanan, merasa penasaran, menyentuh, mencium, hingga akhirnya mencoba memakannya.
“Kalau dia picky eater anaknya enggak mau makan daging sama sekali, tiap hari Anda harus kasih daging di dalam piring, suruh anak lihat terus,” jelas dokter Ian. Penting untuk tidak memaksa anak langsung memakan makanan yang ditolak. Dengan cara ini, anak akan terbiasa melihat dan akhirnya penasaran untuk mencoba sendiri.
Metode sensory food hierarchy memberi anak kontrol terhadap makanan yang mereka temui. Anak belajar untuk mengenal rasa dan tekstur tanpa tekanan. Orang tua cukup menyediakan makanan dan membiarkan anak menyesuaikan diri secara alami.
Memastikan Anak Bebas Alergi
Sebelum mencoba berbagai makanan, orang tua perlu memastikan anak tidak memiliki alergi, terutama terhadap susu sapi. Banyak anak picky eater diduga alergi, padahal setelah diperiksa, alergi tersebut tidak muncul. Dokter Ian menyarankan untuk mengamati reaksi anak secara teliti setelah mengonsumsi susu sapi.
“Kasih susu sapi kalau dia misalnya punya gejala, terus stop susu sapinya selama 2–4 minggu,” kata dokter Ian. Jika gejala hilang, orang tua dapat mencoba kembali untuk memastikan apakah alergi benar-benar ada. Pendekatan ini membantu menentukan makanan yang aman untuk anak tanpa menimbulkan risiko kesehatan.
Memastikan keamanan makanan sangat penting sebelum menerapkan metode pengenalan makanan lainnya. Anak bebas alergi akan lebih mudah menerima makanan baru. Langkah ini juga menghindari kekhawatiran orang tua yang berlebihan tentang risiko alergi.
Konsistensi dan Kesabaran Orang Tua
Kunci keberhasilan menghadapi anak picky eater adalah konsistensi. Anak harus dibiasakan dengan makanan baru setiap hari meski awalnya tidak memakannya. “Lama-lama anak terbiasa melihat, pasti penasaran,” ujar dokter Ian.
Kesabaran orang tua juga berperan penting dalam proses ini. Memberikan anak kebebasan memilih dalam kerangka yang sehat akan membuat mereka lebih terbuka terhadap makanan baru. Pengalaman makan yang menyenangkan mendorong anak membangun kebiasaan makan positif jangka panjang.
Selain itu, orang tua harus mengulang langkah-langkah sensory play dan food hierarchy secara rutin. Setiap interaksi dengan makanan menjadi kesempatan belajar bagi anak. Dengan pendekatan bertahap dan menyenangkan, anak akan berkembang menjadi lebih berani mencoba berbagai jenis makanan.
Pendekatan ini tidak hanya membantu anak dalam jangka pendek, tetapi juga membentuk pola makan sehat di masa depan. Anak belajar menghargai makanan dan mengenal manfaatnya bagi tubuh. Hasilnya, picky eater pun bisa berubah menjadi anak yang lebih terbuka dan antusias terhadap makanan baru.